Tuesday

Sudibyo.

Saya masih ingat bagaimana beliau mengatai tulisan saya habis-habisan.

Tidak berhenti, satu jam penuh beliau berbicara mengenai plagiarisme dan implikasinya di depan kelas. Tak jarang sorotnya berhenti pada saya saat menekankan beberapa hal.

Masih jelas dalam ingatan saya, bagaimana beliau mulai menyebutkan 15 karya terbaik yang akan beliau bukukan. Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana beliau satu per satu membacakan judul demi judul, baik yang masih asli atau yang sudah beliau sunting.

Sepuluh, sebelas, empat belas... Beliau berhenti pada judul terakhir.

Judul karya Puput, Nana dan Reyhan sudah lewat mewakilkan nama-nama yang lahir dari kelas kami.

Kemudian beliau kembali bersuara,

"Ini. Yang satu ini."

(jeda)

"Sangat menggelitik saya. Masih saya simpan hingga sekarang. Bagus sekali. Terlalu bagus, saking bagusnya saya..."

(matanya menatap saya.)

"Maaf, Saveera, ini kamu buat sendiri?"

"Iya pak!" (jawab saya, sudah saya duga sindiran satu jam penuh minggu lalu itu ditujukannya pada saya. tubuh saya mulai bergetar. entah puas, geram, atau tegang)

"saya membuatnya sesubuh penuh pak, tanpa internet. Saya berani bersumpah pak." (saya tahu, seminggu penuh telah beliau gembor-gemborkan bahwa ada seorang siswi yang memalsu dengan sangat parah di kelas lain. Saya mendengar kabar itu.)

"Benar?"

"Saya berani bersumpah pak."

"Saveera, tulisanmu bagus sekali. Seperti sudah jam terbang tinggi. Benar kamu tulis sendiri?"

"Tanpa internet sedikitpun pak." Saya masih tegang. Bergetar. Seisi kelas hening.

"Kamu berbakat nak. Makanya, saya ini ragu. Tapi masih saya simpan. Saya beri nilai 86 kemarin. Saya pikir ini bukan tulisan kamu sendiri. Untuk ukuran anak SMA bahasamu sudah sangat melampaui. Maaf, sungguh, maaf yang sebesar-besarnya Saveera."

(entah berapa kali kemudian beliau masih mengulang-ulang beberapa frasa ucapannya)

Saya tercenung. Beliau melanjutkan,

"Dari siapa kamu belajar? Sudah pernah ikut lomba belum? Siapa nama ibumu? Siapa nama guru SDmu? Guru SMP? Tulisanmu bagus sekali."

Mulai dibacakannya judul karya saya. Isi ulasan esai saya. Kata demi kata. Sembari menyungging senyum.

"Sekali lagi saya minta maaf Saveera. Kamu berbakat nak, teruslah menulis. Kamu bisa menghasilkan banyak uang dari tulisanmu. Kamu makan dari sana. Sungguh. Saya minta maaf sekali lagi ya Saveera. Saya beri nilai 92." Kala itu, belum ada yang mendapat nilai 93.

Tidak penting bagi saya nilai itu. Siang itu, saya menemukan nyawa saya.




Pagi hari sebelum saya meninggalkan asrama untuk selamanya, beliau berlari menghampiri saya. Meminta nomor henfon.


Pagi itu, saya kembali ke kamar dengan air mata. Memeluk nyawa saya, erat-erat.

2 comments:

  1. emang bagus mbak pipoddd. jadi nyesel kan dulu jarang ngomong sama sampean haha. aku orangnya awkward sih. tapi gakpapa, aku doain yang terbaik aja buat sampean. semoga dalam waktu dekat artikelnya bisa masuk majalah ya. keep writing! *anyways, kalau aku pulang kayanya kita perlu meet up gitu deh. buat compensate bonding yang terlewatkan di malang. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu kamu yang dare to comment di sini. Iyalah sure kita harus ketemu, kan aku udah janjiin mau kasi buku! Makasih hahaha semoga cepet dapet jatah tetap amiiiin makasih lho doanya yang sekarang seumuran :)

      Delete