Sunday

Thinking Of Love :)




          Sometimes I feel weird to think and keep things awkward to be put not in the fit place. It is cube in that cylinder, and this is box inside the ball. Nothing, it just feels comfortable and ..safe. I know that I'm a stalker. But now is now. Today is what we call as present, me either, for you. Let me just make my list for now.

          ..Ouch. It seems like thousand thoughts fly over here and here and there.. ruin my mind.




           ..I want you today and tomorrow, and next week, and for the rest of my life. ♥



          ..Okay. That is just a picture! I swear it's really only a picture from the tumblr. But it's possible to be written in my list la la la lala..


 

..for has been there be a part of my life. or for the next day and the next and the next and the next. haha
Excuse me, err, six months ago, I made this. A very ewh-bleh-cuih story, yes I say -_- but Sukma asked me. I just find the whole story few days ago and I have not retyped it. Sukma, read this.


By : Saveera Vivid T (09052011)

H u t a n ,    H u j a n ,    d a n    S a m u d r a .
_____________________________________________________


Aku datang padamu dengan segala luka dan cerita.
Aku datang dengan penuh peluh dan air mata.
Namun sayapku telah tiada, aku hanya bisa terjatuh.
Akulah Hujan.

Aku tumbuh dari sebuah bibit yang terbuang.
Aku kokoh di tengah segala kerapuhan.
Aku tak memilikki akar, aku hanya mencoba bertahan hidup.
Aku adalah Hutan.

***
Kisah tak bertuan yang telah lama terombang-ambing terbawa ombak itu pun pecah sesampainya di pantai. Luruh, larut bersama buih, dan tak ada satu pun yang bisa terselamatkan. Hilang, tenggelam ditelan ombak. Tak ada seorang pun yang memedulikannya—tentu saja.
Namun ijinkanlah kuperkenalkan siapa diriku.
Aku adalah Samudra.
Pagi begitu cerah dan aku bangun bersama sebuah kenangan. Aku mengerti pada akhirnya aku harus menceritakan semua ini padamu, sebelum aku hilang bersama uap, sebelum aku sendiri yang akan mati memendam sendirian kisah ini. Sebelum aku menjadi awan bisu yang tidak berguna.

Dan, semuanya berawal dari sebuah halilintar di suatu malam tak bernyawa.
Gelap, dingin, namun ia sudah biasa. Bukankah itu memang sudah menjadi tugasnya?
Ia disebut Hutan. Yang kuingat, detik berikutnya turunlah sebuah hujan yang cukup deras. Hutan hanya menanggapi seperti biasa, sebagaimana seharusnya. Lagipula Hujan tidak begitu buruk. Ia bahkan sangat mengenal siapa Hujan sebenarnya. Mereka telah bersama-sama dalam waktu yang cukup lama; melewati waktu, melintas musim demi musim, hari demi hari bersama.
Hutan mendongak, merasakan setiap tetes air hujan yang mengalir di tiap bagian tubuhnya. Sesaat ia menyelinap dalam pikirannya sendiri. Ia ingat, mereka pernah melewati masa-masa yang cukup berat. Kemarau, bumi yang semakin renta, iklim yang tak pernah berhenti berubah… Mereka selalu dapat melewati itu bersama. Hutan pun tersenyum.
“Ada apa datang malam-malam begini?” tanyanya pada kawannya itu.
“Ah? Tidak,” Jawab Hujan, tak seperti biasanya.
Tiba-tiba sebuah perasaan yang tak biasa menjalari dirinya. Ia mengenal Hujan. Memang banyak yang berpendapat bahwa Hujan adalah sosok yang terlihat tangguh dan terkalahkan—begitu juga dengan Hutan saat pertama kali mengenalnya dulu—namun, tidak dengan jiwanya. Dibalik itu semua Hujan sangatlah rapuh dan tak menentu.
“Maafkan aku.” Suara Hujan memecah heningnya malam.
“Apa?”
“Apa maksudmu?”
“Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudmu?”
“Aku,”
“Kau?” Hutan sudah hafal kebiasaannya, dan Hujan tahu itu. Hujan pun mengerti bahwa Hutan tidak suka sesuatu yang bertele-tele, dan itulah yang dirasakan Hutan saat ini.
“Kau apa?” kejar Hutan sekali lagi dengan ekspresi datar.
“Aku ingin kau tak ingat padaku lagi.”
“Untuk apa?”
“Karena.. Karena aku telah melakukan sebuah hal yang tak boleh kulakuan.” Hujan merintik.
“Apa maksudmu?”
“Aku telah melawan kata-kataku sendiri. Kau tahu aku ingin seperti ini selamanya dan tak akan pernah berubah. Tak boleh berubah.“
“Aku tak mengerti.“
“Tapi aku telah berubah! Apa yang saat ini kurasakan.. Aku sendiri tak mengerti. Semua berlalu begitu cepat, dan aku,“
“Ada apa dengan kau?“ Hutan sama sekali tidak membuat Hujan merasa lebih baik.
“Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karena aku telah menjatuhkan diriku sendiri padamu. Bencilah aku sesukamu. Aku akan pergi, kita tak bisa bersama lagi.“ Hujan berusaha bertahan menyelesaikan akhir kalimatnya.
“Tapi untuk apa kau pergi?“
“Kau tak mengerti.“
Saat itulah Hutan memutuskan untuk menghentikan semuanya. “Baiklah, maaf telah mengganggumu. Mulai sekarang aku takkan pernah menggangu hidupmu lagi. Namun bila suatu hari aku lupa akan perkataanku ini, aku tak tahu apa yang akan terjadi.“
“Takkan semudah itu. Kau tak mengerti.“ Kata-kata Hujan yang penuh penekanan membuat hati Hutan mengeras. Tiba-tiba angin kencang membelah malam.
“Aku memang tak mengerti.“
Hujan tahu harus berkata apa. Bagaimana pun juga... “Maafkan aku telah merusak semuanya. Dan, terimakasih... untuk segalanya.“
Hutan tak menjawab kalimat terkahir itu. Perlahan, ia merasakan rintik Hujan berkurang dengan pasti.
“Segalanya..“
Kata-kata itu...
Hujan pun mereda.
Keesokan harinya ketika ia terjaga, didapatinya langit tak pernah sama lagi.

Baiklah, kurasa cukup. Sekarang waktunya bagiku untuk pergi. Bersama dengan ini, akan kuberitakan sebuah rahasia untukmu, hanya untukmu.
Akulah Samudra, aku adalah kumpulan air yang mengalir dari seluruh penjuru dunia.
Dari manakah seluruh aliran itu berasal? Ah, kurasa engkau sudah tahu kemana uap-uap ini pergi.

Sebenarnya ia tak pernah mendengar dengan seutuh hatinya ketika aku menyenandungkan lagu itu tepat bersamaan dengan kepergianku malam itu...

***
Pagi begitu cerah. Langit bersih tanpa awan. Awal bulan Juli yang sangat menggugah selera makan Ave. Ia menghirup dalam-dalam aroma hari pertama bulan itu. Sebuah tarikan napas yang menggetarkan nadinya, musim hujan telah pergi. Ave sangat menyukai hujan. Ia mencintai hujan layaknya saudarinya sendiri. Ia dapat merasakan bahwa hujan juga bernapas. Ia mengenal hujan seperti ia mengenal dirinya sendiri.
                “Hah,” Ave tersenyum. Masa orientasi sekolah yang ‘baru’ akan segera dimulai. SMA yang akan ia masukki berada di kota lain. Ia akan meninggalkan kota ini sesegera mungkin, meninggalkan segala kenangan yang masih tercium bersama bisikan angin.
                Ialah Hujan, batinnya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia akan sangat merindukan sosok itu.
                Hutan. Gilang, sahabatnya. Atau lebih tepatnya, ‘mantan’ sahabatnya. Aneh menyebut seorang sahabat sebagai mantan. Apalagi dulu ia selalu menyebut Gilang sebagai sahabat sejatinya. Ya, mungkin dirinya tak akan pernah menemukan sosok seperti Gilang untuk kedua kalinya. Peristiwa empat bulan lalu yang membuat keduanya seperti tak pernah saling mengenal lagi itu kembali terlintas di benak Ave.
                Tidak, ini memang tak harus terjadi, yakinnya pada dirinya sendiri. Perasaan yang ia rasakan itu tak direncanakan, cinta memang tidak bisa diprediksi bukan? Mencintai seseorang, apa salahnya? Cinta datang dan singgah dengan sendirinya, begitu juga ketika cinta memutuskan untuk pergi. Ave juga tak memaksa Gilang untuk memilikki rasa yang sama seperti dirinya. Saat itu Ave memutuskan untuk menarik diri, ia tak ingin membuat Gilang merasa terbebani. Cinta tak harus memilikki, walau itu berarti bertahan selamanya. Ia tak ingin jika suatu saat hubungan mereka terputus, jalinan antara keduanya juga akan hilang bersama musim. Gilang tak memintanya untuk tinggal, dan Ave tahu konsekuensinya.

                Dua tahun kemudian...
                Semburat kemerahan menjalari senja. Ave berdiri menatap pendar yang perlahan seperti melesak dilahap bumi: matahari. Pantai Teleng Ria masih ramai dijejakki para pribumi. Sudah lama ia ingin ke situ, bersama dengan sesorang. Ave tersenyum. Untuk apa? Ya, andai saja semua masih seperti dulu. Tapi tidak, kisah itu sudah lama hilang entah ke mana. Ia memutar tubuhnya.
                “Hujan?”
                Suara itu...
                Ave berusaha membendung getaran dalam nadinya. Tak ada waktu untuk berpikir lagi, ia menoleh mendapati asal suara yang memanggilnya. Tak salah lagi. Tidak ada seorang pun yang memanggilnya dengan cara itu selain, “Woods?“ Ave gagal menyembunyikan nada penuh semangat dalam kalimatnya. Gilang berdiri di depanya dengan segala keajaiban. “Aku kira kita gak akan pernah ketemu lagi.” Ave mengeluarkan tawa garing, masih berusaha keras membendung gejolak yang menjalari segala isi tubuhnya.
                “Oh ya? Dua tahun, lima belas hari, dan aku selalu yakin waktu akan mempertemukan kita lagi dalam ruang yang sama. Keyakinan yang selalu bertambah kuat setiap aku mengingat semuanya. Too much that I would share,” Kalimat Gilang membuat Ave menunduk. Hening.
                “Aku pikir…” Ave mencoba bersuara.
                “Apa?” Cara Gilang bertanya, selalu sama. Tak berkeprimanusiaan.
                “Pas kamu bilang kamu gak ngerti…”
                “Aku benar-benar gak ngerti, gitu? Ya, memang aku gak ngerti, saat itu.” Gilang berjalan mendekati Ave.
                “Lalu?” Ave tidak mengerti apa yang dimaksudkan Gilang. Ia benar-benar merasa bahwa ketika dua tahun lalu Gilang berkata bahwa ia tak mengerti, Gilang memang tak ingin mengerti. Mungkin Gilang tak pernah tahu saat itu dirinya benar-benar berharap Gilang akan mengucapkan sesuatu yang berarti. Tapi bahkan Gilang diam saja ketika Ave pergi. Betapa keberanian dan ketulusannya dibayar oleh diam, diam yang berarti segalanya. Diam yang membuat Ave tak pernah berhenti bertanya-tanya dan memikirkannya hingga sekarang.
                “Aku punya ketakutan yang lebih besar dari itu.”
                “Dari itu?” Ave tak bisa menyembunyikan getar dalam suaranya.
                “Aku takut aku salah, aku terlalu takut untuk memilih. Persahabatan mungkin akan bertahan selamanya, tapi cinta,”
                Matahari tingal di ujung langit. Langit menggelap. Bintang-bintang tak terlihat. Sepertinya awan menutupi angkasa.
                “Aku takut suatu saat kamu bakal sakit gara-gara aku, kamu pergi, dan semuanya berakhir.”
                Hening.
                The best choice at last, huh?” Ave memasang topi pantainya kembali. Matanya yang berkaca-kaca tertutup kacamata hitam.
                “Oh yeah? I think at last I know that I was wrong.
                Ave menoleh, air mata menetes dari matanya.
                “Selama ini kita berhasil sebagai sahabat kan, kenapa gak dilanjutin aja?”
                Ave tak berkata-kata, ia tak mengerti.
                “Hmm, mungkin dengan tambahan ikatan spesial?” Gilang menoleh, menunggu reaksi Ave.
                Hening.
                Sesaat Ave merasa tangannya basah. Ia mendongak. Jangan-jangan…
                “Would you be my best-girl-friend, Rain? Maybe I’ll be an ironic Woods without you in this drought.
                Dengan segenap hati, Ave telah menyiapkan jawaban terbaiknya, “As always, Woods…
                Hujan pun merinai.
               
Begitulah, di hadapan Sang Samudra keduanya bersatu. Kisah itu pun memulai lembar baru. Ombak pun merayakannya, Hujan telah kembali…

2 comments:

  1. Great compilation's of photos. Plus the little story here is very inspiring. <3.

    xx, Crystal @watermoolen

    ReplyDelete