Tuesday

some rips from my unknown short stories :)

PS. Sebelum ini, 'robekan' dari dua cerpen di bawah ini hanya pernah dibaca oleh Sukma Arum Pragmangesti.



Aku datang padamu dengan segala luka dan cerita.
Aku datang dengan penuh peluh dan air mata.
Namun sayapku telah tiada, aku hanya bisa terjatuh.
Akulah Hujan.

Aku tumbuh dari sebuah bibit yang terbuang.
Aku kokoh di tengah segala kerapuhan.
Aku tak memilikki akar, aku hanya mencoba bertahan hidup.
Aku adalah Hutan.

(From Saveera Vivid's short story: Hutan, Hujan, dan Samudra - 10/05/2011)


Dan bahkan Ara tidak bisa menenangkan pikirannya saat melihat punggung Alan menjauh. “Dia.. benarkah akan datang?” Sesaat ia teringat akan percakapannya dengan Berra,
            “Kalau lo yakin, kenapa lo ragu?”
            “Gue gak—?“
            “Mata lo, Ar, banyak keraguan di sana.”
            “Kok lo mendadak puitis sih?”
            “Ini bukan soal puitis atau enggak. Kalau lo gak yakin, jangan dipaksain. Kalau lo ragu, jangan lakuin atau lo cuma mau nyakitin diri lo sendiri. Jangan maksain sesuatu buat hal yang gak pasti. Kalau emang masih bisa diperbaikki, kenapa enggak? Gak ada salahnya merelakan sesuatu, tapi jangan menyesal di kemudian hari. Kalau memang masih bisa dipegang, kenapa harus dilepasin? Kalau memang masih bisa dilihat, kenapa memaksa menutup mata? Gelap, dan gak tentu. Sayang itu rasa yang dalem banget, Ar. Sebuah hal yang benar-benar abstrak. Gue harap lo bakal berpikir dua kali.”
            “Kenapa terus menggenggam sesuatu yang gak akan bisa kita milikki, Berr? Toh itu bukan milik kita, dan gak akan pernah jadi—“
            “Jangan bilang gitu dulu. Mungkin dia adalah sesuatu yang selama ini hilang dan lo cari?”
            Hening.
            “Entahlah. Tapi dia adalah sesuatu yang... membuat gue..” Ara meyakinkan dirinya sendiri, “ngerasa ada.”
            “Clear. Ikuti kata hati lo.”
            Dering handphone mengagetkan Ara.
            “Berra...” Ara memutar kedua bola matanya. Sebelum membaca pesan singkat dari Berra, ia memejamkan mata untuk meredam kegagetannya dan menghela napas.
Ikuti kata hati lo.” Ara tak membalasanya, Ia menaruh benda mungil itu kembali. Pandangannya beralih pada buku bersampul hijau yang mejadi titik utama kedatangannya ke sana. Buku itu... harus kembali pada tuannya. Tuan yang seharusnya.
           

Ara tahu, ia takkan dapat menggenggamnya lagi ketika ia telah melepaskannya. Ia takkan pernah memiliki sesuatu yang dapat menghubungkannya lagi dengan masa lalu, masa lalu yang harus dikuburnya secepat ia bisa, sebelum terlambat. Sebelum rasa itu menjadi sebuah benalu yang akan menghantuinya seumur hidup. Tapi tak mungkin. Ia memang telah terlambat. Perasaan itu... bahkan lebih dari sekedar benalu. Rasa yang sudah terbenam hingga ke nafasnya, perasaan yang ikut berdegup dalam nadinya. Untuk itulah—karena itulah ia akan melepaskan buku itu. Karena ia memiliki sesuatu yang lebih dalam dan abadi dalam dirinya—walau tak tersentuh seperti buku—dalam nadi dan nafasnya sendiri.
            Sepersekian detik kemudian kesesakan menjalari dirinya. Ia mencari kekuatan, mencari dukungan. Gagal, seluruh tubuhnya tak bisa membendung perasaan itu.

(From Saveera Vivid's short story: Jalanan Kosong - 30/04/2011)





(putar foto di atas seratus delapan puluh derajat.)


-Yours.

2 comments:

  1. pipooooddddd, aku baru baca ini..uhhhhh inget cerita kamu yang aku baca...ahh terharu :")

    ReplyDelete
  2. mhehehehhh makasih ya sayang :)) kangen deh kalo kita lg berduaan bareng wi-fian bareng! :'D

    ReplyDelete