Thursday

Vivid.

dulu, nama ini terasa hambar dan cenderung ngganjel.
vivid. vid, vivid. tidak umum, tidak estetik, tidak indah dibunyikan. dan tidak berbau perempuan. bahkan laki-laki. menggantung. hambar. biasa saja.

kemudian aku menjadi lebih sering dipanggil dengan julukan. rasanya ramah. lucu, sedikit menjadi bahan tertawaan, tapi nyaman dan dekat. ketika orang memanggil dengan julukan, artinya dia sudah dekat.

lalu nama vivid menjadi nama asli. (karena teknisnya ada nama panggilan yang lebih sering digunakan). vivid menjadi nama yang tersemat, dan ditulis atau bacakan dengan serius. untukku personal, vivid menjadi sakral.

nama asliku saveera vivid tiarani. tiarani jarang aku sertakan. dan ya, saveera emang mengandung dua e, dan itu bukan kosa-kata asal india. saveera terdiri dari save dan era, yang artinya selamat, menyelamatkan era, era yang selamat, era keselamatan. dan tiara adalah mahkota, ni hanyalah sufiks agar berbau perempuan. dan vivid.
artinya hidup. hidup yang hidup. ketika sesuatu yang tak hidup nampak begitu hidup, orang menggunakan kata vivid untuk menggambarkan. photoshop juga, vivid vivid. meskipun aku dengar sebuah situs porno juga menggunakannya.

tapi nama ini menjadi begitu lekat. hingga suatu saat, ketika beranjak mengakhiri masa remaja, aku sadar bahwa, terkadang, apa yang kulakukan terlihat lebih alay dibanding orang lain. apa yang aku ekspresikan melebihi apa yang diekspresikan orang. apa yang aku nikmati tergambar melebihi apa yang dilihat orang. apa yang aku kagumi terlihat begitu berlebihan.

saat duduk di dalam kendaraan di samping jendela. aku membayangkan ribuan potong gambar dan cerita. saat melihat pepohonan, aku melihat keindahan. saat melihat pantai, aku menganyam puisi dalam dada dan menyimpannya seakan hal itu merupakan kenangan bersepuh permata. saat melihat semesta bergerak dia atas motor aku seperti sedang menonton sebuah mahakarya. aku diam tapi aku merangkai pertunjukan di dalam sana, tak bisa kugambarkan apakah di dalam kepala, di antara retina dan serabut saraf, apakah di dalam dada, di tengah vena dan aorta, apakah di dekat telinga, atau sekujur inda perasa. saat mengalami suatu hal, aku seakan mengisahkannya kembali sedemikian rupanya padahal mungkin orang lain akan menceritakan hal-hal biasa yang sering mereka alami di hari lain.

tapi aku tidak menyesalinya. aku menyukai bagaimana aku menyerap dan mengolah suatu rasa dari sepenggal peristiwa. aku menyukai caraku menyimpan dan menjaga kenangan akan suatu kisah dan cerita. aku suka caraku membingkainya. aku suka caraku mengisahkannya pada dunia.

hal hal sepele jadi bermakna. hal-hal yang tak berarti nampak memiliki nyawa. hal hal yang dilupakan mendapat tempat sebagai kenangan. hal-hal fana mewujud puisi--meski untuk diriku sendiri. orang menyebut aku alay dan nggumunan. aku menyebut diriku mencukupkan diri dan bersyukur. dan, mungkin gemar untuk melihat keadaapaan dibalik keapaadaan.

meski kadang dengan mencukupkan diri menjadi kurang haus ambisi dan pencapaian.

tapi aku bahagia. aku hidup. dan aku menyala. aku hidup, maka aku menyala.


desember enam belas, mahkota keselamatan yang hidup.

Delve Inside: 1 // Nama: Selesai. (terlambat 3 hari).
p.s. terimakasih untuk siapa saja yang karenanya nama pipod menjadi lebih melekat sebagai julukan atau nama panggil. yang telah menjadi alter ego dan meringankan beban dari bunyi vivid, sekaligus membuatku bisa merasakan keutuhannya.

No comments:

Post a Comment